Sunday, January 22, 2012

Someone That I Can Trust



“Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

(Q.S Al-Furqan, 25:74)


“Punya planning apa tahun ini”, tanya seorang sahabat
“Menikah, hehehe.. lagi-lagi”
“Sedang berproses atau gimana?” lanjutnya bertanya
“Belum”
“Sama aku juga, kayaknya perlu waktu untuk cari sebenarnya mau yang kayak apa.”

***

Aku setuju dengan pernyataan dari sahabat di atas. Saat ini aku ingin menikah, tapi juga perlu waktu untuk mencari tahu apa yang aku mau.

Ini mungkin juga menjadi dilema yang dialami banyak orang. Kesendirian bukan berarti tidak mempunyai pilihan, hanya saja bingung dengan pilihan yang ada. Mengapa dari banyak pilihan belum ada yang membuat hati menjadi yakin untuk maju.

Hanya saja aku hidup dalam budaya timur, dimana wanita berusia di atas 25 tahun yang belum menikah seringkali mendapatkan banyak tekanan. Entah itu dari keluarga, atau sadar tidak sadar seringkali kita sendiri selaku teman bisa memberikan pertanyaan yang tidak sengaja membuat yang ditanya merasa terpojok, seperti: “Kapan nih kamu kirim undangan?”

Sekali dua kali masih bisa mentolerir, tapi karena seiring dengan bertambah tuanya usia jumlah penanya beserta intensitasnya semakin bertambah, lama kelamaan hati menjadi jengah. Kalau sudah begini mulai muncul perenungan, “apakah harus menikah karena terdesak usia, walaupun harus dengan orang yang tidak kita suka?”

Hal pertama yang terpikir dari pertanyaan tersebut adalah bahwa aku takut. Takut menjalani sisa hidup dengan orang yang salah, takut suatu hari aku akan menyesal. Tapi sungguh aku sangat ingin menikah, ingin menyempurnakan separuh agama dan memiliki sebuah keluarga yang dirahmati Allah Swt.

Akhirnya selama beberapa hari terakhir ini aku menyibukkan pikiran dengan berbagai prolog. Tentang semua doa-doa yang kupanjatkan pada Sang Maha Pengabul Doa, tentang ketidaksabaran orang tua, tentang keikhlasanku untuk bersabar selagi terus berusaha memperbaiki diri, dan tentang apakah aku harus menyerah dan berdamai dengan keinginan diri?

Kutelaah kutipan dari salah satu ayat Al-Qur’an:
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula), ...” (Q.S An-Nuur, 24:26)

Ayat ini sudah kubaca berulang kali, bahwa Allah Yang Maha Adil mengatur sedemikian rupa agar manusia mendapatkan jodohnya yang sekufu, sesuai dengan derajat kebaikan/ keimanan. Yang harus dilakukan adalah meneguhkan iman, bahwa janji Allah itu benar, dan pasti akan tiba saatnya untuk menjadi indah pada waktu yang Dia telah tentukan.

Usia bukanlah alasan utama, yang diperlukan keyakinan bahwa dia adalah orang yang tepat. Dan yang tepat itu yang harus didefinisikan.

Pria baik, dengan pemahaman agama yang baik. Akan lebih baik bila disertai dengan akhlak yang baik. Karena yang kelak akan dihadapi adalah perilakunya, bukan hanya melayani kepintaran ilmu.

Lalu pria baik, yang pemahaman dan pengamalan agama baik, tapi dalam hal lain kurang sesuai dengan hati. Dengan yang ini aku takut akan banyak melakukan kedzaliman, terutama dengan kurangnya rasa syukur. Belum lagi masih harus juga mempertimbangkan kesesuaian pilihan dengan keinginan orang tua.

Dan yang terakhir adalah bila aku menemukan pria yang sedang belajar untuk menjadi baik, dan dalam kriteria lainnya tidak ada kekurangan. Perlu ketelitian lebih untuk mencari tahu dan menilai, apakah dia bisa menjadi imam yang istiqomah. Karena bagaimana pun juga, agama tetap menjadi pegangan utama. Aku tidak mau bila nanti Allah mengkaruniai kami keturunan, kami tidak bisa mendidiknya dengan amanah. Karena tujuan utamaku menikah adalah kelak ingin bisa menjadi keluarga yang Allah kumpulkan lagi dalam jannah.

Bingung dengan keinginanku sendiri, apakah memang terlalu tinggi?

“Bukan”, jawab sahabatku dalam sebuah perbincangan pagi. Karena untuk menikah harus diniatkan hanya sekali dalam seumur hidup, dan untuk itu kita harus percaya benar dengan sosok yang dipilih.

Itu dia, rasa “Percaya”. Hal inilah yang masih belum kutemukan hingga kini. Semua kriteria yang aku selalu sebutkan dalam doa, semua penilaian yang aku lakukan adalah untuk menemukan sosok yang benar-benar bisa aku percaya.

Aku ternyata tidak terlalu peduli dengan berbagai latar belakang masa lalunya, malah sebenarnya jarang menanyakan terlalu detail. Yang benar-benar ingin aku ketahui adalah:

Apakah dia di masa depan bisa menjadi pribadi yang aku percaya?

Percaya bahwa dia bisa menjadi orang yang jujur dan setia,
Percaya bahwa keluargaku juga memilihnya,
Percaya bahwa dia mampu melindungi dan membuatku merasa tenteram bersamanya,
Percaya bahwa dia segenap tenaga akan berusaha membahagiakan dan membuat keluarga kami berkecukupan (cukup, bukan berarti mewah),
Percaya bahwa kami bisa membangun dan mewujudkan impian kami bersama,
Percaya bahwa bersamanya kami bisa mendidik keluarga yang dicintai Allah,
Percaya bahwa dia adalah imam yang dapat membimbing kami sekeluarga untuk meraih surga.

Percaya, bahwa dia juga memiliki sesuatu keyakinan yang mampu menjaganya dari dalam dirinya sendiri, ketika segala hal di sekeliling kami berjatuhan.

Maka, bila suatu waktu muncul lagi pertanyaan:

“Sebenarnya orang seperti apa yang kamu tunggu?”

Insya Allah akan kujawab dengan satu kalimat sederhana:

“Orang yang bisa aku percaya.”

Saturday, December 3, 2011

La Tahzan, Innaallaaha Ma’anaa



“…, Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita,…”

(Q.S At-Taubah, 9:40)


Ahad sore, 13 November 2011.

Kelompok liqo putri kami dibuka dengan kalimat “La tahzan, Innallaaha Ma’ana”. Sebuah tema singkat yang menjadi bahan diskusi yang begitu menggugah kami sore itu.

Tema tersebut diuraikan dalam penjelasan tentang “Ma’yatullah”, atau kebersamaan Allah.

Ma’yatullah terbagi atas dua, yaitu Ma’yatullan umum dan Ma’yatullah khusus.

Ma’yatullah umum yang pertama adalah bahwa kebersamaan Allah berwujud pengawasan yang selalu melekat pada setiap makhluk, kapan dan dimana pun.

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhmahfuz)”.
(Q.S Al-An’aam, 6:59)

Kedua, Allah memberikan kebaikan-Nya kepada seluruh makhluk. Allah Ar-Rahman, Sang Maha Pemurah. Kebersamaan Allah terwujud pada kenikmatan umum yang bisa dirasakan sehari-hari. Setiap hembusan udara yang kita hirup, cerah cahaya mentari yang menerangi bumi, air segar dan jernih penuntas dahaga, segala sesuatu yang menunjang kehidupan setiap makhluk. Baik kepada yang beriman maupun yang tidak beriman.

Lalu, dimanakah letak keadilan Allah pada hamba-Nya yang beriman?

Disinilah, Allah membersamai kita melalui Ma’yatullah khusus:

Yang pertama adalah berupa dukungan dari Allah, bahwa dalam suasana sesempit apa pun pasti akan ada jalan keluar. Contohnya dalam kisah Nabi Musa As yang dikejar oleh Firaun dan para pengikutnya hingga terdesak mendekati laut. Saat itulah pertolongan Allah datang.

“Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Firaun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.”
(Q.S Al-Baqarah, 2:50)

Begitu pula pertolongan Allah yang datang kepada Nabi Ibrahim As. Ketika Beliau menghancurkan patung-patung berhala yang disembah kaumnya dan menyisakan hanya satu patung besar yang kemudian dikatakan sebagai pelakunya. Kaumnya menjadi gusar dan beramai-ramai bermaksud untuk membakarnya, namun Nabi Ibrahim As sekalipun tidak gentar hingga masuklah Beliau ke dalam kobaran api. Dan (lagi), pertolongan Allah datang secara ajaib.

“Kami (Allah) berfirman: ‘Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim’. Dan mereka hendak berbuat jahat kepada Ibrahim, maka Kami menjadikan  mereka itu orang-orang yang paling rugi. Dan Kami selamatkanlah dia (Ibrahim) dan Luth ke sebuah negeri yang telah kami berkahi untuk seluruh alam.”
(Q.S Al-Anbiya, 21:69-71)

Dan yang terakhir, Ma’yatullah khusus yang kedua adalah Nasruminallah, kemenangan dari Allah.

Pernah mendengar tentang kisah Perang Badr? Perang pertama yang pecah antara kaum Mukmin dengan kaum kafir Quraisy Mekah pada tahun 623 M dengan jumlah pasukan yang jauh dari seimbang. Kaum mukmin yang berjumlah hanya sekitar 300-an pasukan berperang melawan para kafir Quraisy yang berjumlah antara 900-1000 pasukan.

Pertolongan Allah kembali datang. Ketika pasukan kaum mukmin diperintahkan untuk bergerak maju sebenarnya mereka tidak maju sendirian.

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut".
(Q. S Al-Anfaal, 8:9)
“(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman". Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.”
(Q. S Al-Anfaal, 8:12)

Martin Lings dalam bukunya yang berjudul “Muhammad”, menuturkan bahwa pada Perang Badr, banyak yang melihat sekilas para malaikat mengendarai kuda, dengan kaki yang tak pernah menyentuh tanah, dipimpin oleh Jibril yang memakai serban kuning, sementara malaikat-malaikat yang lain memakai serban putih yang ujungnya melambai-lambai ke belakang. Salah seorang mukmin sedang mengejar musuh, dan tiba-tiba kepala orang yang dikejarnya itu jatuh ke tanah sebelum ia berhasil menjangkaunya, ditebas tangan gaib. Tentara Quraisy pun segera tercerai berai dan tak sanggup lagi melanjutkan pertempuran, kecuali hanya segelintir yang masih tertinggal karena tidak dilewati oleh pasukan malaikat.

Ketika peperangan telah usai dengan dimenangkan oleh kaum mukmin, Abu Sufyan menceritakan kepada Abu Lahab:

“Kami berhadapan dengan musuh dan berbalik, tetapi mereka terus menyerang kami dan mengambil tawanan semau mereka. Aku tidak bisa menyalahkan orang-orang kami, karena kami tidak hanya menghadapi mereka, tetapi juga suatu pasukan berbaju putih dengan kuda belang di antara bumi dan langit. Pasukan itu tidak menyisakan sedikit pun, hingga tak ada lagi yang bisa bertahan untuk melawan mereka.”

Kemenangan diraih, karena kaum mukmin berperang dengan bantuan Allah.

Itu hanyalah sedikit kisah pertolongan Allah pada para Rasul. Bukan berarti kita hanya manusia biasa maka pertolongan Allah menjadi sulit.

Tercatat pada Q.S Qaaf (50:16):

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”

***

Jangan bersedih…

Karena Allah Swt selalu ada

Luangkan waktu sejenak untuk Dia yang telah menganugerahkan waktu untukmu

Saat hidup terasa sulit, menangis dan mengadulah pada-Nya, karena hanya Dia yang akan selalu mendengarkan tanpa jemu

Jangan bersedih, karena pertolongan Allah itu dekat pada setiap hamba-Nya yang beriman

Sholehkan diri dan mendekatlah pada-Nya

Dan jangan bersedih,

Ingatlah selalu bahwa sesungguhnya Allah Swt bersama kita.

Wednesday, October 5, 2011

Perjalanan Menuju Tempat yang Tertinggi


Aku percaya, maka aku akan melihat keajaiban
Iman adalah mata yang terbuka, mendahului datangnya cahaya
-Salim A. Fillah-


“Usia Anda berapa mba?”, tanya salah seorang kepala bidang pada masa orientasi kerja.

“Dua puluh lima”, jawabku, waktu itu masih di pertengahan tahun 2010.

“Sudah menikah?”

“Belum..”

“Sudah punya pacar?”

“Saya gak pacaran pak, insya Allah”

“Kenapa? Pernah sakit hati?”

Sambil tersenyum kujawab, “insya Allah, bukan karena itu pak”

“Belum pernah sama sekali?”

“Dulu pernah, tapi semenjak berhijab saya gak pacaran lagi”.

---***---

Beberapa minggu lalu seorang teman menyampaikan, “Hmm.. tentang tulisan metha yang ini, aku gak nyangka metha berprinsip begitu, karena yang aku lihat metha bukan akhwat berjilbab panjang”.

Aku hanya bisa tersenyum mendengar komentarnya setelah dia membaca artikel “Cinta Kusujudkan di Mihrab Taat”. Iya, dia memang benar. Kerudungku tidak lebar dan panjang, hanya tetap kujulurkan menutup dada. Aku hanya perempuan biasa yang baru berkerudung dalam dua tahun terakhir, perempuan biasa yang baru belajar memperdalam ilmu agama.

Percakapan di atas hanya sedikit dari yang telah kulakoni dalam dua tahun terakhir. Terutama tentang keputusan berhijab dan tidak berpacaran. Mungkin untuk kebanyakan orang dua hal itu masih berat untuk dijalankan. Apalagi di Indonesia hijab seperti bukan dipandang sebagai kewajiban, melainkan sebuah budaya keagamaan. Itu pun tidak semua perempuan muslim mau menjalankan karena merasa belum siap. Apalagi mendengar prinsip tentang tidak mau berpacaran, seringkali orang mengerutkan kening saat aku mengatakannya. Dan itu wajar, karena dulu juga butuh pergolakan cukup lama untuk bisa menerapkannya pada diri sendiri.

Yang sedang kuceritakan sekarang ini adalah tentang proses perjalanan hidup.

Mengenai perjalanan hidup, aku merasakan begitu luasnya bentuk kasih sayang Allah Swt. Dia mengajarkan cara untuk bangkit, setelah sebelumnya memberi berbagai ujian dalam tingkat kekuatan yang Dia Maha Tahu tentang batasan dimana aku masih sanggup.

Sering orang mengaitkannya dengan pengalaman sakit hati. Iya, itu juga pernah. Dan pengalaman itu justru menjadi bagian dari perjalanan yang membawa pada Allah. Bukan bermaksud membanggakan keburukan di masa lalu, tapi karena aku merasa sangat bersyukur. Karena dalam semua kehinaanku, Allah masih memanggil.

Hari itu, di dalam sebuah pesawat.

Laki-laki itu menyodorkan dua buah bingkisan. Satu diletakkan di tangan kanannya dan satu di tangan kiri. Dia memintaku memilih: mau sekotak coklat atau bungkusan merah berbentuk hati?

Tanganku mengambil bungkusan merah berbentuk hati, dan mataku terus terfokus menatapnya. Aku lupa sebelumnya laki-laki itu duduk dimana, yang aku ingat dia kemudian pindah ke kursi belakang, duduk dengan wanita lain.

Lalu bungkusan itu kubuka, dan dalam sekejab berubah menjadi sejadah.

Kuperhatikan sekeliling, pesawat itu sepi dan hanya berisi beberapa orang yang kukenal. Aku duduk sendirian pada barisanku, dan mereka juga duduk pada barisannya masing-masing.

Pesawat itu terus terbang, tinggi dan semakin tinggi menembus awan. Kami terus terbang menuju langit yang entah dimana ujungnya.

Dan aku pun terbangun...

Sampai kini mimpi itu belum bisa kulupakan. Mimpi penutup dari rangkaian mimpi yang terjadi dalam semalam. Detail mimpinya tidak perlu kuceritakan, karena intinya adalah aku sedang mengurai hikmah.

Orang boleh bergunjing tentang masa laluku, orang boleh berpraduga tentang berbagai hal yang aku terapkan. Allah Yang Maha Tahu, dan biarlah Allah menyimpannya dengan rapat.

Yang aku yakini, kini aku sedang berjalan menuju takdir Allah yang terdekat, yaitu kematian. Aku memberanikan diri untuk berkerudung, mulai membatasi diri dari lawan jenis yang bukan mahram atau belum menjadi suami/ keluarga, aku belajar untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, belajar untuk lebih mengasihi keluarga dan orang-orang di sekitar, belajar untuk terus tersenyum dan melakukan segala sesuatu karena Allah. Setiap hari belajar untuk menjadi orang yang lebih baik, dan sekarang aku merasa masih sangat jauh dari cukup.

Karena saat ini aku sedang berada dalam pesawat yang membawaku pada Allah. Pesawat yang membawaku pada tempat tertinggi yang hanya diketahui oleh Allah dimana ujungnya.

Tidakkah kamu juga merasa bahwa dalam perjalananmu saat ini, Allah sedang memanggil?

Setelah sholat maghrib kutemukan rangkaian ayat:

“Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhan-Mu, maka kamu akan menemui-Nya”.
(Q.S Al-Insyiqaq, 84:6)

Air mataku menetes membaca terjemah kitab suci Al-Qur’an. Kalimat di footnote menafsirkan: “manusia di dunia ini baik disadari atau tidak adalah dalam perjalanan kepada Tuhannya. Dan pasti dia akan menemui Tuhannya untuk menerima pembalasan perbuatan baik atau buruk”.

Subhannallah.. Allah memberiku petunjuk melalui mimpi yang bermakna indah, dan Dia menuntunku menemukan rangkaian ayat-Nya sebagai penjelasan.

Dan di akhir perbincangan, Al-Qur’an berkata:

“Sungguh, akan kamu jalani tingkat demi tingkat (dalam kehidupan)”
(Q.S Al-Insyiqaq, 84:19)

Tulisan ini sebagai penjelasan dari serangkaian perubahan yang kulakukan. Bukan karena satu pengalaman tertentu, tapi karena serangkaian hikmah yang berujung pada kesimpulan bahwa hidup adalah sebuah perjalanan bertingkat menuju tempat yang tertinggi, a journey to the highest place.

Thursday, September 22, 2011

Apakah Aku Cantik?



Apakah aku cantik?
Sering aku mendengar orang memuji penampilanku

Apakah aku cantik?
Sepatu highheels yang kupakai membuatku berjalan dengan anggun

Apakah aku cantik?
Para pria menolehkan wajah mereka saat aku melintas

Apakah aku cantik?
Orang bilang kakiku panjang, membuatku sangat percaya diri memakai busana yang memperlihatkan keindahannya

Apakah aku cantik?
Tubuhku yang langsing membuatku leluasa memakai pakaian yang menonjolkan lekuk tubuh

Apakah aku cantik?
Aku begitu bangga dengan rambutku yang indah

Apakah aku cantik?
Teman-teman wanita pun kerap memuji kulit wajahku

Apakah aku cantik?
Aku mendapati seorang teman tertawa geli menyaksikan seorang pria tidak berhenti menatapku

Apakah aku cantik?
Banyak lelaki mendekatiku

Apakah aku cantik?
Tapi bagaimana kalau berat badanku bertambah dan aku  tidak lagi menarik

Dan lagi-lagi...

Apakah aku cantik?
Aku takut mereka hanya melihat fisik dan penampilanku

Apakah aku cantik?
Aku mulai sadar.. Mereka melihatku bukan dengan penghormatan, tapi dengan hawa nafsu

Apakah aku cantik?
Ternyata.. Dalam diri pun aku masih saja bertanya, apakah benar aku cantik?

Apakah aku cantik?
Entah sudah berapa banyak uang yang kuhabiskan untuk membeli berbagai peralatan make-up, aksesoris dan pakaian-pakaian mahal agar aku terlihat cantik

Apakah aku cantik?
Siapakah yang bisa menjawab dengan sebenar-benarnya?

Apakah aku cantik?
Allah, hanya Engkau yang tahu jawabannya

Apakah aku cantik?
Ya Rabb... Apakah benar aku cantik?

Apakah menurut-Mu.. aku cantik?

***
Dan Allah menjawabnya melalui salah satu ayat:

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

(Q.S An-Nuur, 24:31)

***
Terselip sebuah pesan dari Allah Swt untuk para wanita beriman.

Ternyata, di hadapan Allah aku belum menjadi cantik. Padahal selama ini aku merasa telah beriman.

Allah mengkaruniai dengan begitu banyak kelebihan, tapi aku menghumbarnya dengan percuma kepada para lelaki yang bukan muhrim.

Allah mensyariatkan hijab untuk melindungiku, tapi aku sendiri memberi celah pemancing hawa nafsu.

Tetapi.. Bisakah orang melihatku bukan karena penampilan? Dan aku juga tidak merasa menarik dengan pakaian tertutup.

Ya Allah, bolehkah aku menunda berhijab sampai aku siap?

***
Seorang teman mengirimkan pesan singkat:

“Kebaikan itu meninggalkan sinar di wajah, cahaya di hati, keluasan rizki, kekuatan fisik, dan kecintaan dalam hati orang lain”
(Ibnu Abbas ra)

Inilah makna cantik,

Wajah yang bersinar, hati yang tenang dan lapang, diri yang dicintai orang lain karena kebaikan.

Berhijab bukanlah tentang sebuah kesiapan, tetapi adalah tentang iman kepada pesan Allah Swt melalui ayat suci Al-Qur'an. Ini adalah sebuah kewajiban, bukan sebuah pilihan "boleh atau tidak".

Lagipula, sampai kapankah hati ini akan siap? Satu tahun, dua tahun, atau nanti setelah menikah dan memiliki satu anak?

Cantik, bukankah yang paling dekat dengan kita adalah kematian?

Karena itu katakanlah dalam hatimu bahwa:

"Aku ingin menjadi cantik di hadapan Allah Swt, ingin dicintai-Nya karena iman."

Sunday, September 4, 2011

Ma'idaturrahman


Kalau hidup sekedar hidup,
Babi di hutan juga hidup
Kalau kerja sekedar kerja,
Kera juga bekerja
-Buya Hamka -


Kira-kira begitulah isi petuah Buya Hamka yang seringkali dipaparkan Ustad Bachtiar Nasir di kelas pengajian kamis malam kami. Beliau tidak mau kami hanya sekedar menjadi pemuda dan pemudi muslim biasa, tidak mau kami mentadaburi ayat-ayat suci Al-Qur’an tanpa mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.

Dan beginilah hasilnya, di bulan suci Ramadhan tahun ini aku mengikuti kegiatan baru yang namanya tercetak indah pada spanduk bertema besar:

Ma’idaturrahman
(Sajian berbuka puasa gratis)


Kalau kebetulan pada bulan Ramadhan kemarin, menjelang maghrib Anda melihat ada segerombolan muda mudi berompi biru membagikan kotak putih berisi tajil di beberapa titik macet sekitar lampu merah daerah Jakarta Utara/ Jakarta Pusat/ Jakarta Barat/ Jakarta Selatan/ Jakarta Timur atau di daerah Tangerang Selatan, Anda mungkin telah bertemu dengan kami, tim Ma’idaturrahman.

Kegiatan kami sederhana, sekedar membagikan tajil berbuka puasa bagi orang-orang yang terkena macet di waktu menjelang maghrib. Di setiap titik kami membagikan sekitar 300 kotak tajil yang umumnya berisikan satu air mineral dalam kemasan gelas, satu plastik kecil kurma, dan snack manis/ asin seperti roti, risoles, atau berbagai kue lainnya yang umumnya biasa aku temui sebagai snack rapat di kantor. Tapi siapa sangka di balik kegiatan sederhana ini, aku mendapatkan banyak hikmah.

Pertama, aku gak pernah berpikir bahwa hanya untuk mendapat satu kotak tajil orang-orang akan dengan antusias menepikan kendaraannya dan mengantri di depan kami.

Ini kualami saat kami membagikan tajil di sekitar Halte PPM, Jl.Tugu Tani Jakarta Pusat. Kebetulan aku bergabung dengan tim Jakarta Pusat yang titik pembagiannya relatif lebih dekat dengan lokasi kantor.

Tentunya yang mengantri adalah para pengendara motor, yang Alhamdulillah cenderung tertib dan segera bergegas melaju setelah berhasil mendapatkan tajil dari kami. Tapi yang membuat mulutku menganga adalah ketika sebuah truk juga ikut menepi. Ya Allah… kotak-kotak tajil berisikan makanan kecil ini benar-benar dibutuhkan banyak orang yang terjebak macet.

Kedua, rasa bahagia bisa memberikan makanan bagi orang-orang yang membutuhkan.

Di tengah kemacetan ibukota, kulihat wajah-wajah lelah para pekerja. Raut wajah harap-harap cemas akan bisa sampai rumah sebelum azan maghrib berkumandang, dan wajah lelah pengemudi kendaraan umum yang tetap harus bekerja mengantarkan penumpang demi mengejar setoran. Senyumku dengan mudahnya mengembang saat membagikan kotak tajil, bahkan untuk para pengemudi bajaj maupun kernet metromini yang biasanya menjadi sasaran sumpah serapah saat menyetir mobil pribadi. Yang kupikirkan hanya bahwa mereka butuh, dan aku belajar tentang kepedulian.

Ketiga, aku belajar tentang kesabaran dan keikhlasan untuk menyenangkan hati orang lain.

Pernah ditolak saat membagikan flyer kegiatan atau promosi event perusahaan? Aku pernah, dan rasanya berbeda dengan ditolak saat membagikan makanan gratis. Jika flyer kegiatan/ promosi perusahaan ditolak karena biasanya orang cenderung malas membaca iklan, di luar dugaan ternyata kami juga menemui kesulitan membagikan tajil walaupun secara gratis. Para pengendara mobil pribadi umumnya adalah yang tersulit untuk menjadi target, karena selain biasanya posisi kendaraan mereka berada di tempat yang “menantang” alias lebih ke tengah jalan, kami juga harus berbesar hati mengetuk jendela mobil mereka untuk menawarkan tajil. Dan itu pun tidak semuanya mau menerima, bahkan enggan untuk sekedar menurunkan kaca mobil.

Dari cerita di milis juga ada pengalaman teman yang ditolak karena orang merasa takut. Iya, takut.. Agak geli juga membacanya. Ternyata ada juga orang yang takut kami memberi obat bius di makanannya, atau mungkin juga takut kami mintai uang untuk membayar tapi mereka malas bertanya. Ternyata pakai rompi biru Ma’idaturrahman juga bukan sepenuhnya menjamin orang akan percaya dengan kami.

Tapi yang aku dan (mungkin) teman-teman pikirkan, bahwa 300 kotak tajil itu harus habis dan orang-orang yang sedang terkena macet bisa segera berbuka puasa. Ini adalah pelajaran dari Allah tentang membangun rasa sabar dan ikhlas.

Keempat, pelajaran tentang bekerja keras karena Allah.

Ada pengalaman lucu dari seorang teman. Waktu itu tim Jakarta Pusat sedang bertugas di Jl. Tugu Tani dan dia naik ke atas metromini untuk membagikan tajil kepada para penumpang. Di luar dugaan jalanan menjadi lancar, dan metromini membawanya sampai ke Tanah Abang.

Suatu waktu saat membagikan tajil di sekitar Jl. Budi Kemulyaan (dekat gedung Bank Indonesia), kami harus memecah tim karena lagi-lagi jalanan juga lancar. Kami pun berpencar dan terburu-buru karena khawatir tertabrak kendaraan.

Di hari ke-19 Ramadhan mungkin adalah satu dari pengalaman paling melelahkan. Jumat sore itu lalu lintas di Jakarta Pusat macet total. Sampai mendekati maghrib mobil yang membawa snack box kami masih belum juga sampai dan terjebak macet di Jl. Kebon Sirih. Akhirnya kami mengejar dengan naik ojek ke arah stasiun Gondangdia, dan lanjut  mencari dengan berjalan kaki. Setelah azan maghrib berkumandang kami baru menemukan mobil tersebut dan berpencar membagikan tajil langsung di lokasi.

Dan (menurutku) yang paling melelahkan adalah Senin, 22 Agustus 2011. Karena waktu yang mendekati akhir Ramadhan, kami memindahkan lokasi ke Stasiun Gambir untuk membagikan tajil kepada para pemudik. Jumlah snack box pun ditambahkan menjadi 500 box. Namun di luar dugaan ternyata kami terganjal perizinan, sehingga hanya bisa menyebar di sekitar lobby stasiun. Disana pun kami menemui banyak ganjalan seperti: jumlah pemudik kereta yang ternyata masih sedikit, banyaknya kios yang menjual makanan, dan kami juga mulai dikerumuni oleh para proter dan orang-orang yang berpenampilan seperti preman. Akhirnya setelah berhasil menyebarkan sebanyak 200 box, sekitar 10 menit menjelang azan Maghrib koordinator kami dengan rembukan bersama tim membuat keputusan untuk berpindah lokasi ke sekitar Sarinah. Kami terpaksa  berpindah karena lokasi yang tidak lagi kondusif.

Keputusan mendadak itu membuat anggota tim berpencar dengan terpisah kendaraan menuju lokasi. Ada aksi nekat dan berani juga saat koordinator kami memutuskan untuk turun dari mobil di salah satu lokasi yang kebetulan macet. Beberapa dari kami pun turun membagikan beberapa box, sedangkan mobil meninggalkan kami langsung melaju ke Sarinah. Waktu yang sempit, anggota yang terpencar di beberapa lokasi dan jumlah snack box yang lebih banyak dari biasanya membuat kami bertugas hingga hampir mendekati waktu Isya.

Sebenarnya, apa yang membuat kami mau bersusah payah seperti itu?

Teman-teman Ma’idaturrahman seringkali masih harus lanjut itikaf di masjid selesai shalat tarawih. Ada juga yang masih harus rapat hingga larut malam untuk beberapa kegiatan Ramadhan lainnya.

Aku sendiri lebih memilih langsung pulang ke rumah. Jauhnya rumah dan minimnya waktu istirahat untuk kembali beraktivitas keesokan harinya, membuatku  tidak bisa rutin membantu teman-teman.

Pernah kami membahasnya dalam sebuah percakapan ringan, jika bukan karena Allah tentu kami enggan menguras waktu dan tenaga seperti itu.

Dan hikmah yang termanis adalah tentang persahabatan.

Melalui Ma’idaturrahman aku mendapatkan banyak teman baru. Ikatan kami disatukan dari kebersamaan dan kerja sama selama di lokasi. Selama berbulan-bulan aku mengaji di Ar-Rahman Quranic Learning Center (AQL), tapi begitu bergabung di Ma’idaturrahman aku baru benar-benar mengenal mereka dengan berbagai karakternya yang menarik.

Ada Mba A’an sebagai koordinator tim Jakarta Pusat, karakternya yang supel dan ceria membuatku betah dan terkadang lupa waktu untuk pulang (imbasnya aku sudah beberapa kali ketinggalan kereta malam). Ryan dan Ucok yang biasa tiba di lokasi lebih awal dengan membawa ratusan box tajil. Kiki yang menyemangati kami dengan bungkusan air mineral botol dan combronya. Mas Kuwat yang berani turun ke tengah jalan, hingga kadang terkocar-kacir dikejar kendaraan yang terburu-buru melaju saat lampu sudah hijau. Mas Addy dan Ario yang di sisa waktu mereka yang sibuk dan tubuh lelahnya masih rela turun membantu tim. Mba Yanti yang menurut cerita juga suka lupa waktu kalau sudah bersama teman-teman. Mba Dewi yang baru sempat membantu di seminggu terakhir namun semangat tempurnya tidak diragukan lagi. Mba Sri dan Mba Faiz yang sangat gigih membantu tim hampir setiap hari. Ada juga adik perempuannya Ryan yang masih remaja tapi semangatnya luar biasa.


Itulah cerita Ramadhanku. Ma’idaturrahman, merupakan sebuah pengalaman baru yang membuat ibadah Ramadhan semakin terasa lebih berarti.

Kalau hidup hanya sekedar hidup dan kerja hanya sekedar bekerja, mungkin kami tidak akan mau bersusah payah untuk mengenyangkan lapar dan dahaga orang-orang di jalan. Tapi kami memilih jalan yang berbeda, kami tidak mau seperti babi hutan yang hidup dengan merusak tanaman orang, dan tidak mau seperti kera yang bekerja hanya untuk mengenyangkan perut sendiri.

Kami mau menjalankan hidup dan bekerja karena Allah, mengharapkan rewards langsung dari Allah.

Semoga Ma’idaturrahman terus berlanjut pada Ramadhan di tahun-tahun berikutnya dan semakin banyak pemuda-pemudi muslim yang ikut berpartisipasi. Melalui kegiatan ini, mari kita perlihatkan bahwa Islam itu indah dan muslim adalah pribadi yang peduli kepada sesama.