Monday, March 26, 2012

Senandung Suara Azan




Suatu sore pada sebuah vila di Bogor, aku berbincang singkat dengan seorang teman kantor yang banyak tahu tentang ilmu agama. Saat itu sedang turun hujan, dia yang duduk di sampingku mengatakan bahwa saat hujan adalah salah satu waktu yang baik untuk berdoa, karena saat itu Allah sedang menurunkan rahmat-Nya.

“Aku dengar waktu azan juga salah satu waktu yang baik untuk berdoa”, tambahku.

“Saat azan sebaiknya kita juga mengulangi kalimat per kalimat yang diserukan oleh muazin. Kecuali saat muazin mengucapkan hayya 'alash sholaah dan hayya 'alal falaah, ucapkan laa haula wala quwwata illa billah.

Ucapannya kuingat lekat-lekat. Jangankan mengulangi seruan muazin, selama ini malah sering mengabaikan azan. Seperti kebanyakan orang yang sibuk menonton TV atau terus mengobrol serius dengan teman saat para muazin melantunkan dengan merdunya panggilan sholat. Dan temanku itu juga benar, selain karena memang yang dia ucapkan itu mengutip pada salah satu hadits shahih Bukhari, tapi juga masuk akal karena dengan mengulangi seruan muazin berarti juga mendengarkan azan dengan lebih fokus.

Belakangan aku juga sadar, bahwa melalui azan Allah juga memberikan kekuatan.

Ketika Allah Memanggil

Senin pagi kemarin aku terbangun di sepertiga malam. Sayangnya sedang berhalangan sholat, dan udara yang sangat panas membuat mata sulit terpejam kembali. Akhirnya setelah keluar kamar dan mengambil minum, kubuka laptop dan menyibukkan diri dengan browsing internet. Saat itu aku sedang tidak bersemangat menulis karena jiwa sedang terasa kosong. Sudah lebih dari sebulan ternyata, tidak ada satu tulisan pun yang selesai karena sibuk dengan berbagai kegiatan dan juga masalah pribadi.

Akhirnya waktu dua jam kuhabiskan dengan menonton streaming dua episode drama Korea. Cukup menghibur, tapi rasanya telah membuang waktu yang seharusnya sangat baik untuk beribadah. Aku sangat butuh pertolongan Allah, dan saat itu sedang tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan.

Saat itu suara azan subuh mulai bergema bersahut-sahutan. Satu suara di hati mengatakan untuk terus menonton, dan satu suara lagi mengatakan “hentikan dulu, dengarkanlah Allah sedang memanggil”.

Kuheningkan pikiran, melepas headset dan pindah duduk di sudut lantai tempat biasa aku sholat.

Allahu Akbar.. Allahu Akbar
Allah Yang Maha Besar

Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah
Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah

Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah
Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad Saw adalah utusan Allah

Terus kuikuti kalimat per kalimat sampai pada Hayya 'Alal Falaah… Marilah meraih kemenangan. Kujawab dengan Laa haula wala quwwata illa billah, tiada daya upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Seketika itu juga air mataku menetes, ini adalah jawaban atas semua ketidaktenanganku. Jangan menyerah pada keadaan, Allah telah mengajak meraih kemenangan. Bibirku bergerak menggumamkan sendiri jawaban untuk seruan Allah, semua tidak akan terjadi tanpa pertolongan Allah.

Terima kasih Allah, untuk senandung panggilan-Mu yang indah.

Setelah muazin menutup azan kuucapkan: Laillahaillallah, Tiada Tuhan Selain Allah. 

Saturday, February 11, 2012

Perhiasan Teristimewa



Dont Tell Us How to Dress, Tell Them Dont2 Rape”
(Jangan ajari kami cara berbusana, ajari mereka jangan memperkosa)


Kalimat itu terpampang jelas pada salah satu poster yang diusung para pendemo wanita di Bundaran HI. Kala itu, mereka memprotes komentar salah seorang pejabat tentang keterkaitan antara meningkatnya kasus perkosaan dengan para wanita yang suka memakai rok mini.

Lebih gamblangnya, mereka juga menyuarakan “Bukan Otak Kami yang Salah, Tapi Otak Kalian yang Mini”, “Kendalikan Nafsumu, Bukan Kendalikan Rokmu”.

Tapi yang terpikir dalam otak saya justru:
“Bagaimanakah para lelaki harus sibuk mengendalikan hawa nafsu mereka di kala para wanita justru menyodorkan tampilan yang memancing hawa nafsu itu sendiri?“

Ibaratnya bila melihat kucing di rumah yang sedang kenyang sekalipun, lalu di depannya ada sarden kesukaannya yang dia sudah terbiasa tahu bahwa rasanya enak, bagaimana cara dia mengendalikan naluri alamiahnya? Setidaknya dia bisa hanya memandang sambil terus berimajinasi.

Wanita dipuji karena penampilan, dipuji karena pesona, dipuji karena setiap gerak gerik yang dia lakukan adalah pusat perhatian bagi yang memandang. Wanita adalah target utama dari industri yang memanjakan hasrat kecantikan. Rambut yang terawat dengan indah, kulit yang mulus dan cantik, ditambah lagi dengan memakai berbagai model pakaian masa kini yang semakin banyak menonjolkan kecantikan wanita, meskipun pakaian itu terbilang minim.

Wanita bisa mengendalikan penampilan, bisa memilih sendiri pakaian jenis apa yang ingin dikenakan agar bisa merasa nyaman dan terlihat menarik. Tapi tetap, tidak bisa mengendalikan pikiran orang lain.

Dan kenyataannya kini memang terjadi fenomena menakutkan di masyarakat. Perkosaan di angkutan umum, pembuhuhan karena perkosaan, dan ada berapa banyak pernikahan yang terjadi akibat “kecelakaan” sebelum menikah. Ironisnya lagi, ada berapa banyak bayi di dunia yang harus terlahir lalu dibuang dan terabaikan dikarenakan banyak laki-laki yang tidak mampu menahan gejolak syahwat saat bersama pacarnya.


Kalau sudah begini, jadi letak kesalahannya ada dimana?

***

Wanita itu seperti perhiasan. Orang bisa tahu dan ikut menikmati keindahannya walau hanya dengan memandangnya saja.

Allah Swt menciptakan wanita dengan keindahannya, dan Dia Maha Tahu bahwa keindahan tersebut harus dilindungi dan hanya dinikmati oleh orang yang berhak.

“Katakanlah kepada perempuan yang beriman:
Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau perempuan-perempuan Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS.An-Nuur, 24:31)

“Hai Nabi katakanlah kepada Istri-istrimu, anak-anakmu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang  demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah  Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab, 33:59)

Bukan seorang pejabat yang mengajari wanita untuk tidak lagi memakai rok mini atau busana dengan potongan minim lainnya agar dirinya tidak lagi diganggu. Tapi Allah Swt, Sang Pencipta dan Pemilik segala makhluk, Dia yang telah mengajari kita, para wanita, tentang bagaimanakah harus berpakaian.

Para wanita muslim mungkin sudah tahu isi ayat tersebut, tapi memilih untuk mengabaikan dengan berbagai dalih. Lagipula selagi bisa terlihat mempesona dengan tampilan lekuk tubuh, kulit dan rambut indah yang sudah dirawat dengan susah payah dan biaya mahal, mengapa harus dilepas dan merelakan diri untuk tampil dengan pakaian tertutup?

Ketika mata, hati, telinga telah tertutup dengan keegoisan diri, maka kalimat perintah dari Allah pun dikesampingkan.

Mutiara yang Sholehah

“Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita yang sholehah”
(HR. Muslim)

Rabu, 8 Februari 2012.

Ust. Amir Faisol memberikan analogi tentang iman manusia. Dia mengatakan manusia kini lebih beriman pada sesama manusia.

Contohnya, saat sedang sakit manusia akan menuruti semua perkataan dokter tentang obat yang harus diminum, pantangan makanan apa saja yang harus dilakukan, sampai pada anjuran untuk mengamputasi kaki pun dia akan turuti selama anjuran itu diberikan oleh dokter, orang yang dia percaya sebagai ahlinya. Berapapun biaya yang harus dikeluarkan hingga hartanya terkuras, dia akan tetap menurut. Karena yang memberikan perintah dan anjuran adalah seorang dokter.

Lalu bagaimanakah dengan Allah?

Kepada Dia yang telah memberikan air, udara, bumi sebagai tempat hidup dan berpijak, menjadikan siang yang terang untuk manusia beraktivitas, mendatangkan malam agar kita bisa beristirahat dengan nyaman. Kepada Dia Yang Maha Pengasih, yang telah memberikan itu semua tanpa pajak. Kepada Dia, justru memilih untuk bertindak durhaka dengan mengabaikan ajaran-Nya.

Dan karena itu, perlu untuk dipertanyakan lagi alasan dibalik pengakuan diri sebagai penganut Islam:
1)      Karena agama warisan turun-temurun dalam keluarga;
2)      Karena perintah;
3)  Karena yakin dengan pesan Allah dalam Al-Qur’an dan yang telah disampaikan-Nya melalui Rasulullah Saw.

Jika mengaku beragama tertentu karena hanya mengikuti kebiasaan turun temurun dalam keluarga, maka dia adalah pengadut tradisi. Dan apabila hanya karena perintah manusia lain, maka imannya ada kepada si pemberi perintah.

Penganut Islam adalah orang-orang yang meyakini Allah Swt adalah Tuhan Yang Maha Esa dan mengakui Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya.

Pun dia telah merasa dirinya berislam karena syahadatnya,

Bagaimana merasa diri sebagai hamba Allah, tapi tidak mengimani Isi Kitab Suci Al-Qur’an? Kitab yang isinya datang langsung dari Allah Swt, dan insya Allah terpelihara dengan sempurna sampai akhir zaman.

Bagaimana merasa diri telah mengimani dan meyakini Kitab Suci Al-Qur’an, tapi menjalankan isi ajaran yang terkandung di dalamnya dengan setengah hati?

Bukalah mata, hati, telinga.

Laksanakan perintah Allah yang disampaikan melalui Al-Qur’an dan juga telah disampaikan melalui perantara Rasul-Nya, sebagai bukti pengabdian tulusmu sebagai hamba yang beriman.

Rasulullah Saw, pribadi terkasih yang dirinya adalah cerminan dari Al-Qur’an menyampaikan dalam salah satu hadits:

“Dari Abu Hurairah RA, katanya Rasulullah Saw bersabda: Ada dua macam penduduk neraka yang keduanya belum kelihatan olehku. 1) Kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, yang dipergunakannya untuk memukul orang, 2) Wanita-wanita berpakaian, tetapi sama juga dengan bertelanjang karena pakaiannya terlalu minim, terlalu tipis atau tembus pandang, terlalu ketat atau pakaian yang merangsang pria karena sebagian auratnya terbuka, dan wanita-wanita yang mudah dirayu atau suka merayu, rambut mereka (disasak) bagaikan punuk unta, wanita-wanita tersebut tidak dapat masuk surga, bahkan tidak dapat mencium bau surga, padahal bau surga dapat tercium dari jarak yang sangat jauh.” (HR. Muslim)

Na’udzubillahimindzalik…

Saudariku,

Tutuplah auratmu, karena Allah yang telah memintamu demikian.

Ingatlah, cara kita berpakaian adalah cara untuk menunjukkan pada orang lain tentang bagaimana kita ingin dihormati dan bagaimana ingin diperlakukan.

Jadilah seperti mutiara.

Perhiasan yang walaupun tertutup dalam cangkang, orang tetap bisa menilai seberapa mahal kecantikan yang ada di dalamnya.

Kenakan hijab, maka perilakumu akan menyesuaikan dengan hijab yang dikenakan. Paling tidak dengan berhijab menunjukkan bahwa kita memiliki banyak rasa malu, malu untuk memperlihatkan aurat, malu untuk melakukan perbuatan tercela yang menodai keimanan.

Mari kita belajar mempercantik diri dengan cerminan yang sholehah, seperti layaknya perhiasan teristimewa.

Sunday, January 22, 2012

Someone That I Can Trust



Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

(Q.S Al-Furqan, 25:74)


“Punya planning apa tahun ini”, tanya seorang sahabat
“Menikah, hehehe.. lagi-lagi”
“Sedang berproses atau gimana?” lanjutnya bertanya
“Belum”
“Sama aku juga, kayaknya perlu waktu untuk cari sebenarnya mau yang kayak apa.”

***

Aku setuju dengan pernyataan dari sahabat di atas. Saat ini aku ingin menikah, tapi juga perlu waktu untuk mencari tahu apa yang aku mau.

Ini mungkin juga menjadi dilema yang dialami banyak orang. Kesendirian bukan berarti tidak mempunyai pilihan, hanya saja bingung dengan pilihan yang ada. Mengapa dari banyak pilihan belum ada yang membuat hati menjadi yakin untuk maju.

Hanya saja aku hidup dalam budaya timur, dimana wanita berusia di atas 25 tahun yang belum menikah seringkali mendapatkan banyak tekanan. Entah itu dari keluarga, atau sadar tidak sadar seringkali kita sendiri selaku teman bisa memberikan pertanyaan yang tidak sengaja membuat yang ditanya merasa terpojok, seperti: “Kapan nih kamu kirim undangan?”

Sekali dua kali masih bisa mentolerir, tapi karena seiring dengan bertambah tuanya usia jumlah penanya beserta intensitasnya semakin bertambah, lama kelamaan hati menjadi jengah. Kalau sudah begini mulai muncul perenungan, “apakah harus menikah karena terdesak usia, walaupun harus dengan orang yang tidak kita suka?”

Hal pertama yang terpikir dari pertanyaan tersebut adalah bahwa aku takut. Takut menjalani sisa hidup dengan orang yang salah, takut suatu hari aku akan menyesal. Tapi sungguh aku sangat ingin menikah, ingin menyempurnakan separuh agama dan memiliki sebuah keluarga yang dirahmati Allah Swt.

Akhirnya selama beberapa hari terakhir ini aku menyibukkan pikiran dengan berbagai prolog. Tentang semua doa-doa yang kupanjatkan pada Sang Maha Pengabul Doa, tentang ketidaksabaran orang tua, tentang keikhlasanku untuk bersabar selagi terus berusaha memperbaiki diri, dan tentang apakah aku harus menyerah dan berdamai dengan keinginan diri?

Kutelaah kutipan dari salah satu ayat Al-Qur’an:
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula), ...” (Q.S An-Nuur, 24:26)

Ayat ini sudah kubaca berulang kali, bahwa Allah Yang Maha Adil mengatur sedemikian rupa agar manusia mendapatkan jodohnya yang sekufu, sesuai dengan derajat kebaikan/ keimanan. Yang harus dilakukan adalah meneguhkan iman, bahwa janji Allah itu benar, dan pasti akan tiba saatnya untuk menjadi indah pada waktu yang Dia telah tentukan.

Usia bukanlah alasan utama, yang diperlukan keyakinan bahwa dia adalah orang yang tepat. Dan yang tepat itu yang harus didefinisikan.

Pria baik, dengan pemahaman agama yang baik. Akan lebih baik bila disertai dengan akhlak yang baik. Karena yang kelak akan dihadapi adalah perilakunya, bukan hanya melayani kepintaran ilmu.

Lalu pria baik, yang pemahaman dan pengamalan agama baik, tapi dalam hal lain kurang sesuai dengan hati. Dengan yang ini aku takut akan banyak melakukan kedzaliman, terutama dengan kurangnya rasa syukur. Belum lagi masih harus juga mempertimbangkan kesesuaian pilihan dengan keinginan orang tua.

Dan yang terakhir adalah bila aku menemukan pria yang sedang belajar untuk menjadi baik, dan dalam kriteria lainnya tidak ada kekurangan. Perlu ketelitian lebih untuk mencari tahu dan menilai, apakah dia bisa menjadi imam yang istiqomah. Karena bagaimana pun juga, agama tetap menjadi pegangan utama. Aku tidak mau bila nanti Allah mengkaruniai kami keturunan, kami tidak bisa mendidiknya dengan amanah. Karena tujuan utamaku menikah adalah kelak ingin bisa menjadi keluarga yang Allah kumpulkan lagi dalam jannah.

Bingung dengan keinginanku sendiri, apakah memang terlalu tinggi?

“Bukan”, jawab sahabatku dalam sebuah perbincangan pagi. Karena untuk menikah harus diniatkan hanya sekali dalam seumur hidup, dan untuk itu kita harus percaya benar dengan sosok yang dipilih.

Itu dia, rasa “Percaya”. Hal inilah yang masih belum kutemukan hingga kini. Semua kriteria yang aku selalu sebutkan dalam doa, semua penilaian yang aku lakukan adalah untuk menemukan sosok yang benar-benar bisa aku percaya.

Aku ternyata tidak terlalu peduli dengan berbagai latar belakang masa lalunya, malah sebenarnya jarang menanyakan terlalu detail. Yang benar-benar ingin aku ketahui adalah:

Apakah dia di masa depan bisa menjadi pribadi yang aku percaya?

Percaya bahwa dia bisa menjadi orang yang jujur dan setia,
Percaya bahwa keluargaku juga memilihnya,
Percaya bahwa dia mampu melindungi dan membuatku merasa tenteram bersamanya,
Percaya bahwa dia segenap tenaga akan berusaha membahagiakan dan membuat keluarga kami berkecukupan (cukup, bukan berarti mewah),
Percaya bahwa kami bisa membangun dan mewujudkan impian kami bersama,
Percaya bahwa bersamanya kami bisa mendidik keluarga yang dicintai Allah,
Percaya bahwa dia adalah imam yang dapat membimbing kami sekeluarga untuk meraih surga.

Percaya, bahwa dia juga memiliki sesuatu keyakinan yang mampu menjaganya dari dalam dirinya sendiri, ketika segala hal di sekeliling kami berjatuhan.

Maka, bila suatu waktu muncul lagi pertanyaan:

“Sebenarnya orang seperti apa yang kamu tunggu?”

Insya Allah akan kujawab dengan satu kalimat sederhana:

“Orang yang bisa aku percaya.”

Saturday, December 3, 2011

La Tahzan, Innaallaaha Ma’anaa



“…, Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita,…”

(Q.S At-Taubah, 9:40)


Ahad sore, 13 November 2011.

Kelompok liqo putri kami dibuka dengan kalimat “La tahzan, Innallaaha Ma’ana”. Sebuah tema singkat yang menjadi bahan diskusi yang begitu menggugah kami sore itu.

Tema tersebut diuraikan dalam penjelasan tentang “Ma’yatullah”, atau kebersamaan Allah.

Ma’yatullah terbagi atas dua, yaitu Ma’yatullan umum dan Ma’yatullah khusus.

Ma’yatullah umum yang pertama adalah bahwa kebersamaan Allah berwujud pengawasan yang selalu melekat pada setiap makhluk, kapan dan dimana pun.

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhmahfuz)”.
(Q.S Al-An’aam, 6:59)

Kedua, Allah memberikan kebaikan-Nya kepada seluruh makhluk. Allah Ar-Rahman, Sang Maha Pemurah. Kebersamaan Allah terwujud pada kenikmatan umum yang bisa dirasakan sehari-hari. Setiap hembusan udara yang kita hirup, cerah cahaya mentari yang menerangi bumi, air segar dan jernih penuntas dahaga, segala sesuatu yang menunjang kehidupan setiap makhluk. Baik kepada yang beriman maupun yang tidak beriman.

Lalu, dimanakah letak keadilan Allah pada hamba-Nya yang beriman?

Disinilah, Allah membersamai kita melalui Ma’yatullah khusus:

Yang pertama adalah berupa dukungan dari Allah, bahwa dalam suasana sesempit apa pun pasti akan ada jalan keluar. Contohnya dalam kisah Nabi Musa As yang dikejar oleh Firaun dan para pengikutnya hingga terdesak mendekati laut. Saat itulah pertolongan Allah datang.

Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Firaun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.
(Q.S Al-Baqarah, 2:50)

Begitu pula pertolongan Allah yang datang kepada Nabi Ibrahim As. Ketika Beliau menghancurkan patung-patung berhala yang disembah kaumnya dan menyisakan hanya satu patung besar yang kemudian dikatakan sebagai pelakunya. Kaumnya menjadi gusar dan beramai-ramai bermaksud untuk membakarnya, namun Nabi Ibrahim As sekalipun tidak gentar hingga masuklah Beliau ke dalam kobaran api. Dan (lagi), pertolongan Allah datang secara ajaib.

Kami (Allah) berfirman: ‘Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim’. Dan mereka hendak berbuat jahat kepada Ibrahim, maka Kami menjadikan  mereka itu orang-orang yang paling rugi. Dan Kami selamatkanlah dia (Ibrahim) dan Luth ke sebuah negeri yang telah kami berkahi untuk seluruh alam.”
(Q.S Al-Anbiya, 21:69-71)

Dan yang terakhir, Ma’yatullah khusus yang kedua adalah Nasruminallah, kemenangan dari Allah.

Pernah mendengar tentang kisah Perang Badr? Perang pertama yang pecah antara kaum Mukmin dengan kaum kafir Quraisy Mekah pada tahun 623 M dengan jumlah pasukan yang jauh dari seimbang. Kaum mukmin yang berjumlah hanya sekitar 300-an pasukan berperang melawan para kafir Quraisy yang berjumlah antara 900-1000 pasukan.

Pertolongan Allah kembali datang. Ketika pasukan kaum mukmin diperintahkan untuk bergerak maju sebenarnya mereka tidak maju sendirian.

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut".
(Q. S Al-Anfaal, 8:9)
(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman". Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.”
(Q. S Al-Anfaal, 8:12)

Martin Lings dalam bukunya yang berjudul “Muhammad”, menuturkan bahwa pada Perang Badr, banyak yang melihat sekilas para malaikat mengendarai kuda, dengan kaki yang tak pernah menyentuh tanah, dipimpin oleh Jibril yang memakai serban kuning, sementara malaikat-malaikat yang lain memakai serban putih yang ujungnya melambai-lambai ke belakang. Salah seorang mukmin sedang mengejar musuh, dan tiba-tiba kepala orang yang dikejarnya itu jatuh ke tanah sebelum ia berhasil menjangkaunya, ditebas tangan gaib. Tentara Quraisy pun segera tercerai berai dan tak sanggup lagi melanjutkan pertempuran, kecuali hanya segelintir yang masih tertinggal karena tidak dilewati oleh pasukan malaikat.

Ketika peperangan telah usai dengan dimenangkan oleh kaum mukmin, Abu Sufyan menceritakan kepada Abu Lahab:

“Kami berhadapan dengan musuh dan berbalik, tetapi mereka terus menyerang kami dan mengambil tawanan semau mereka. Aku tidak bisa menyalahkan orang-orang kami, karena kami tidak hanya menghadapi mereka, tetapi juga suatu pasukan berbaju putih dengan kuda belang di antara bumi dan langit. Pasukan itu tidak menyisakan sedikit pun, hingga tak ada lagi yang bisa bertahan untuk melawan mereka.”

Kemenangan diraih, karena kaum mukmin berperang dengan bantuan Allah.

Itu hanyalah sedikit kisah pertolongan Allah pada para Rasul. Bukan berarti kita hanya manusia biasa maka pertolongan Allah menjadi sulit.

Tercatat pada Q.S Qaaf (50:16):

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”

***

Jangan bersedih…

Karena Allah Swt selalu ada

Luangkan waktu sejenak untuk Dia yang telah menganugerahkan waktu untukmu

Saat hidup terasa sulit, menangis dan mengadulah pada-Nya, karena hanya Dia yang akan selalu mendengarkan tanpa jemu

Jangan bersedih, karena pertolongan Allah itu dekat pada setiap hamba-Nya yang beriman

Sholehkan diri dan mendekatlah pada-Nya

Dan jangan bersedih,

Ingatlah selalu bahwa sesungguhnya Allah Swt bersama kita.

Wednesday, October 5, 2011

Perjalanan Menuju Tempat yang Tertinggi


Aku percaya, maka aku akan melihat keajaiban
Iman adalah mata yang terbuka, mendahului datangnya cahaya
-Salim A. Fillah-


“Usia Anda berapa mba?”, tanya salah seorang kepala bidang pada masa orientasi kerja.

“Dua puluh lima”, jawabku, waktu itu masih di pertengahan tahun 2010.

“Sudah menikah?”

“Belum..”

“Sudah punya pacar?”

“Saya gak pacaran pak, insya Allah”

“Kenapa? Pernah sakit hati?”

Sambil tersenyum kujawab, “insya Allah, bukan karena itu pak”

“Belum pernah sama sekali?”

“Dulu pernah, tapi semenjak berhijab saya gak pacaran lagi”.

---***---

Beberapa minggu lalu seorang teman menyampaikan, “Hmm.. tentang tulisan metha yang ini, aku gak nyangka metha berprinsip begitu, karena yang aku lihat metha bukan akhwat berjilbab panjang”.

Aku hanya bisa tersenyum mendengar komentarnya setelah dia membaca artikel “Cinta Kusujudkan di Mihrab Taat”. Iya, dia memang benar. Kerudungku tidak lebar dan panjang, hanya tetap kujulurkan menutup dada. Aku hanya perempuan biasa yang baru berkerudung dalam dua tahun terakhir, perempuan biasa yang baru belajar memperdalam ilmu agama.

Percakapan di atas hanya sedikit dari yang telah kulakoni dalam dua tahun terakhir. Terutama tentang keputusan berhijab dan tidak berpacaran. Mungkin untuk kebanyakan orang dua hal itu masih berat untuk dijalankan. Apalagi di Indonesia hijab seperti bukan dipandang sebagai kewajiban, melainkan sebuah budaya keagamaan. Itu pun tidak semua perempuan muslim mau menjalankan karena merasa belum siap. Apalagi mendengar prinsip tentang tidak mau berpacaran, seringkali orang mengerutkan kening saat aku mengatakannya. Dan itu wajar, karena dulu juga butuh pergolakan cukup lama untuk bisa menerapkannya pada diri sendiri.

Yang sedang kuceritakan sekarang ini adalah tentang proses perjalanan hidup.

Mengenai perjalanan hidup, aku merasakan begitu luasnya bentuk kasih sayang Allah Swt. Dia mengajarkan cara untuk bangkit, setelah sebelumnya memberi berbagai ujian dalam tingkat kekuatan yang Dia Maha Tahu tentang batasan dimana aku masih sanggup.

Sering orang mengaitkannya dengan pengalaman sakit hati. Iya, itu juga pernah. Dan pengalaman itu justru menjadi bagian dari perjalanan yang membawa pada Allah. Bukan bermaksud membanggakan keburukan di masa lalu, tapi karena aku merasa sangat bersyukur. Karena dalam semua kehinaanku, Allah masih memanggil.

Hari itu, di dalam sebuah pesawat.

Laki-laki itu menyodorkan dua buah bingkisan. Satu diletakkan di tangan kanannya dan satu di tangan kiri. Dia memintaku memilih: mau sekotak coklat atau bungkusan merah berbentuk hati?

Tanganku mengambil bungkusan merah berbentuk hati, dan mataku terus terfokus menatapnya. Aku lupa sebelumnya laki-laki itu duduk dimana, yang aku ingat dia kemudian pindah ke kursi belakang, duduk dengan wanita lain.

Lalu bungkusan itu kubuka, dan dalam sekejab berubah menjadi sejadah.

Kuperhatikan sekeliling, pesawat itu sepi dan hanya berisi beberapa orang yang kukenal. Aku duduk sendirian pada barisanku, dan mereka juga duduk pada barisannya masing-masing.

Pesawat itu terus terbang, tinggi dan semakin tinggi menembus awan. Kami terus terbang menuju langit yang entah dimana ujungnya.

Dan aku pun terbangun...

Sampai kini mimpi itu belum bisa kulupakan. Mimpi penutup dari rangkaian mimpi yang terjadi dalam semalam. Detail mimpinya tidak perlu kuceritakan, karena intinya adalah aku sedang mengurai hikmah.

Orang boleh bergunjing tentang masa laluku, orang boleh berpraduga tentang berbagai hal yang aku terapkan. Allah Yang Maha Tahu, dan biarlah Allah menyimpannya dengan rapat.

Yang aku yakini, kini aku sedang berjalan menuju takdir Allah yang terdekat, yaitu kematian. Aku memberanikan diri untuk berkerudung, mulai membatasi diri dari lawan jenis yang bukan mahram atau belum menjadi suami/ keluarga, aku belajar untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, belajar untuk lebih mengasihi keluarga dan orang-orang di sekitar, belajar untuk terus tersenyum dan melakukan segala sesuatu karena Allah. Setiap hari belajar untuk menjadi orang yang lebih baik, dan sekarang aku merasa masih sangat jauh dari cukup.

Karena saat ini aku sedang berada dalam pesawat yang membawaku pada Allah. Pesawat yang membawaku pada tempat tertinggi yang hanya diketahui oleh Allah dimana ujungnya.

Tidakkah kamu juga merasa bahwa dalam perjalananmu saat ini, Allah sedang memanggil?

Setelah sholat maghrib kutemukan rangkaian ayat:

“Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhan-Mu, maka kamu akan menemui-Nya”.
(Q.S Al-Insyiqaq, 84:6)

Air mataku menetes membaca terjemah kitab suci Al-Qur’an. Kalimat di footnote menafsirkan: “manusia di dunia ini baik disadari atau tidak adalah dalam perjalanan kepada Tuhannya. Dan pasti dia akan menemui Tuhannya untuk menerima pembalasan perbuatan baik atau buruk”.

Subhannallah.. Allah memberiku petunjuk melalui mimpi yang bermakna indah, dan Dia menuntunku menemukan rangkaian ayat-Nya sebagai penjelasan.

Dan di akhir perbincangan, Al-Qur’an berkata:

“Sungguh, akan kamu jalani tingkat demi tingkat (dalam kehidupan)”
(Q.S Al-Insyiqaq, 84:19)

Tulisan ini sebagai penjelasan dari serangkaian perubahan yang kulakukan. Bukan karena satu pengalaman tertentu, tapi karena serangkaian hikmah yang berujung pada kesimpulan bahwa hidup adalah sebuah perjalanan bertingkat menuju tempat yang tertinggi, a journey to the highest place.