Friday, April 25, 2014

Merindu-Mu

Allah, Ya Rabb..

Betapa banyak nikmat yang Kau beri, dan betapa sedikit aku mengingat-Mu
Betapa banyak doa yang terpanjat, dan betapa Kau selalu memberi yang jauh lebih indah dari doa-doaku
Tapi, betapa aku makin menjauh dari-Mu

Nikmat dunia banyak membuatku terlupa dengan bagaimana aku bisa sampai di titik ini
Iya, semua tidak akan terjadi jika bukan karena Kau yang berkata, "Kun Fa Yakun"
Tapi aku makin lalai dengan dalih rutinitasku membuatku sulit menjadi yang seperti dulu

Sungguh ini adalah waktu untuk kembali menata ibadah
Aku tidak boleh makin menjauh dari-Mu
Aku tidak mau kehilangan-Mu
Aku ingin terus mengejar-Mu

Kesibukan bukan dalih untuk mengurangi ibadah
Kesibukan layaknya menjadi pacuan mencari cara lain untuk menikmati ibadah

Mohon temani aku melangkah, Ya Allah..
Bimbinglah aku menuju surga-Mu.




Wednesday, January 9, 2013

Untaian Kata Untuk Suamiku




Belum terlambat untuk mengingat satu moment spesial di hari ini. Masih tersisa 1 jam sebelum meninggalkan tanggal 9 Januari 2013. Hari ini, tepat 4 bulan pernikahan dengan suamiku Habibi Mawardi, atau yang akan kusebutkan seterusnya dalam tulisan sebagai Mr. Ha.

Mr. Ha kesayanganku, kamu mungkin bukan sosok lelaki sempurna yang pernah kubayangkan akan menjadi suamiku. Begitupun aku, mungkin juga bukan sosok istri idamanmu di masa lalu. Kita menikah dalam waktu yang relatif singkat, kira-kira dari proses awal ta’aruf sampai ke pernikahan hanya selama kurang dari 5 bulan. Tapi dengan seiringnya waktu berjalan, kuyakin kita mampu menyempurnakan kekurangan ini bersama-sama.

Karena beginilah seharusnya sejatinya cinta. Dibangun selama masa yang halal sebagai suami istri yang menjalin kasih dalam ridho Allah.

Kita baru benar-benar saling mengenal pribadi satu sama lain, mengenal karakter keluarga kita, dan berbagi sekelumit cerita di masa lalu (yang dianggap penting untuk dibagi) selama dalam masa pernikahan yang baru seumur jagung. Pasti banyak hal yang membuatmu kaget, begitu juga aku. Bisa dikatakan kalau mungkin.. Kita melalui tahap pengenalan itu dalam proses pacaran, mungkin kita tidak akan sampai ke pernikahan. Tapi disini letak keindahannya sayang, karena dalam pernikahan kita harus belajar untuk menerima segala kekurangan dan menjadikannya sebagai ladang amal.

Meski selama 4 bulan ini kita lebih banyak tinggal berjauhan, aku dapat merasakan keindahan rencana Allah. Mungkin memang kita sengaja diletakkan di tempat yang berbeda, agar saling mengerti apa yang dinamakan rindu. Dan dalam segala pertengkaran kecil yang kita pernah lalui dalam komunikasi jarak jauh, Allah sedang mengajarkan kita cara mencintai yang sebenarnya. Rasanya, baru kali ini aku berhadapan dengan lelaki sesabar kamu Mr. Ha, dan aku beruntung memilihmu karena agamamu, karena dari lisanmu (Alhamdulillah) belum pernah ada kalimat yang menyakiti hati.

Terima kasih suamiku,

Aku tidak mau percaya diri bisa membahagiakanmu, karena aku sadar begitu banyak kekurangan. Tapi aku percaya Allah yang akan membahagiakan kita bersama. Selama kita tetap saling mencintai, karena Allah :)

*Ditulis dengan cinta yang dengan izin Allah akan terus dibangun dalam masa 4 bulan ke depan, 4 tahun, 40 tahun, dan selamanya hingga ke jannah. Aamiin*

Thursday, September 6, 2012

Tiga Hari Menjelang Hidup Baru



Dalam tiga hari ke depan, aku akan menjalani kehidupan yang baru.

Menikah, kata yang sakral dan beberapa waktu lalu setelah melewati berbagai kejadian juga sempat menjadi sesuatu yang menakutkan buatku. Takut jika aku salah memilih, takut dengan berbagai pikiran tentang seperti apa hidup yang akan dijalani nanti.

Dengan kalimat: 

"Bismillah.. Lahawla wa la quwwata illabillah. "

Hari ini kumantapkan hati dengan keyakinan pada rencana Allah. Jalan yang kami pilih melalui tata cara yang insya Allah baik, dan semoga hasilnya juga mendapatkan keberkahan berlimpah dari Allah.

Aamiin.


Note:
Setelah beberapa bulan menghilang, rasanya ini juga posting terakhir sebelum melepas masa lajang.

Can't wait to share another journey on this blog :)

Monday, April 9, 2012

Bahagia itu Sederhana


“Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang berakal”
(Q.S Al-Baqarah, 2:269)


Hari ini, Allah membangunkanku beberapa waktu sebelum azan subuh berkumandang. Walau harus bersusah payah menahan kantuk, aku berjuang membuka mata, tidak mau lagi melewatkan sekian banyak panggilan yang Allah anugerahkan. Heningnya suasana dan dinginnya udara pagi menemani manusia beribadah sebelum matahari menampakkan wajah.  Terima kasih Allah, panggilanmu untuk bermunajat adalah berkah.

Lalu kumulai aktivitas pagi. Seperti biasa selalu terburu-buru mengejar commuter line. Bila dulu penumpang kereta sangat dimudahkan dengan adanya kereta express, sistem commuter line banyak menyusahkan penumpang. Hampir semua kereta yang lewat penuh sesak, dan terlihat tatapan kecewa para penumpang yang tidak bisa tertampung ke dalam gerbong kereta.

“Yah.. mama gak bisa masuk de”, kata seorang wanita di sampingku pada balita laki-laki yang duduk di pangkuan suaminya. Lalu sambil menunggu kereta berikutnya lewat mereka duduk sambil bersenda gurau menggoda anaknya yang lucu. Dan kereta berikutnya pun lewat, aku dan si ibu tadi terpaksa menjejalkan diri ke dalam gerbong kereta yang sudah penuh sesak dengan penumpang, karena kalau tidak begitu mau jam berapa lagi sampai ke kantor? “Dah mama.. ayo dadah ke mama de”, kata si ayah pada si lucu yang ada di gendongannya, sambil menatap istrinya yang sibuk menahan tubuh di pintu kereta. “Dah ade..”, sahut si ibu sambil melambaikan tangan selagi pintu gerbong mulai menutup. Aneh, walaupun kondisi sedang tidak kondusif aku bisa tersenyum bahagia hanya dengan melihat tingkah mereka.

Selagi kereta terus berjalan, sinar matahari pagi menembus kaca pintu kereta. Hangatnya seperti menari menerpa wajah, menggodaku yang sedang meringis menahan tubuh yang terdorong-dorong penumpang lain. Baiklah.. Aku paham, terima kasih Allah untuk sinar mentari-Mu yang indah. Kau pasti tahu, aku juga sangat mencintai-Mu.

***
Rabu, 21 Maret 2012

Ustad Amir Faisol menutup tausiyahnya dengan memberikan dua belas kalimat motivasi. Salah satunya yang paling kuingat adalah:

 “Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah maka kamu akan bahagia

Jadi teringat kakak perempuan mama yang dua minggu lalu kami kunjungi. Rumahnya jauh di daerah Parung dan aksesnya juga sulit. Sempat jadi pergunjingan dalam keluarga sewaktu dulu dia memutuskan menjual rumah lamanya dan pindah kesana, sisa uang hasil penjualan digunakan untuk membiayai perjalanan hajinya bersama suami. Ya Rab, sedemikian rindunya mereka pada tanah suci.

Setahun sekali kami biasanya kumpul disana setelah idul fitri. Tapi tahun ini keluarga kami berkumpul kesana lebih sering, karena beliau terserang stroke dan baru-baru ini entah dari mana mulanya salah satu kakinya juga patah.

Dengan membawa tongkat beliau keluar dari kamarnya dan menyambut kami dengan senyumannya yang khas. Tak ada lagi tubuh besar yang semasa kecil aku jadikan candaan saat dia menggodaku. Tubuhnya kini kurus dan terlihat sangat lemah, tapi aku tidak melihat ada raut penyesalan di wajahnya. Sama seperti saat kami datang bersilaturrahmi idul fitri, setiap keluarga datang mengunjungi dia selalu memerintahkan anak-anaknya menyuguhkan hidangan makan siang. Keadaannya yang sulit tidak menghalangi niatnya untuk memuliakan tamu yang datang ke rumah.

Setelah azan ashar berkumandang, dia sholat tepat waktu sambil duduk di sudut ruang tengah. Aku yang melihatnya merasa malu dengan diriku sendiri. Beliau yang fisiknya sedang sakit dan banyak kekurangan, masih bisa tersenyum dan menampakkan syukur pada Allah dengan sholat tepat waktu.

Dalam rasa syukur

Aisyah ra. mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw mendirikan ibadah (shalat) pada malam hari hingga pecah-pecah kulit kakinya. Lalu Aisyah mengatakan pada Beliau, “Mengapa tuan banyak beribadah begini ya Rasulullah, sedangkan Allah telah mengampuni tuan terhadap dosa-dosa tuan yang telah lalu dan yang akan datang”. Nabi Saw menjawab, “Bukankah aku senang jika aku menjadi hamba (manusia) yang mengucapkan terima kasih kepada Allah?” (HR. Bukhari – Muslim)

Kalau harus menunggu bahagia dulu untuk bersyukur pada Allah, berarti aku telah kufur pada nikmat Allah. Begitu banyak nikmat Allah di sekelilingku, tapi seperti tertutupi hanya karena ada satu atau dua keinginan yang belum juga terpenuhi. Sungguh, aku merasa sangat tidak adil pada Allah.

Tersenyum itu mudah, bahkan bisa dilakukan walau tanpa alasan. Tapi aku belajar untuk banyak tersenyum dengan ikhlas hanya karena Allah. Meskipun suasana hati sedang tidak bahagia, paling tidak bisa menenangkan orang yang melihat. Karena itu kulepaskan senyum dan membiarkan orang lain tahu bahwa aku tidak terpengaruh dengan keadaan.

Terima kasih Allah untuk segala hikmah yang selalu Kau buka dalam setiap fase kehidupan yang kujalani.

Terima kasih, karena telah mengajarkan aku untuk banyak tersenyum bahkan dalam keadaan sulit.

Izinkan aku untuk menarik hikmah, bahwa untuk merasakan bahagia adalah dengan menempatkan diri untuk selalu merasa cukup dan bersyukur. Agar lebih banyak lagi tersenyum, sebagai bentuk rasa syukur pada Allah dalam segala kondisi.

Bahwa bahagia itu sederhana.

Monday, March 26, 2012

Senandung Suara Azan




Suatu sore pada sebuah vila di Bogor, aku berbincang singkat dengan seorang teman kantor yang banyak tahu tentang ilmu agama. Saat itu sedang turun hujan, dia yang duduk di sampingku mengatakan bahwa saat hujan adalah salah satu waktu yang baik untuk berdoa, karena saat itu Allah sedang menurunkan rahmat-Nya.

“Aku dengar waktu azan juga salah satu waktu yang baik untuk berdoa”, tambahku.

“Saat azan sebaiknya kita juga mengulangi kalimat per kalimat yang diserukan oleh muazin. Kecuali saat muazin mengucapkan hayya 'alash sholaah dan hayya 'alal falaah, ucapkan laa haula wala quwwata illa billah.

Ucapannya kuingat lekat-lekat. Jangankan mengulangi seruan muazin, selama ini malah sering mengabaikan azan. Seperti kebanyakan orang yang sibuk menonton TV atau terus mengobrol serius dengan teman saat para muazin melantunkan dengan merdunya panggilan sholat. Dan temanku itu juga benar, selain karena memang yang dia ucapkan itu mengutip pada salah satu hadits shahih Bukhari, tapi juga masuk akal karena dengan mengulangi seruan muazin berarti juga mendengarkan azan dengan lebih fokus.

Belakangan aku juga sadar, bahwa melalui azan Allah juga memberikan kekuatan.

Ketika Allah Memanggil

Senin pagi kemarin aku terbangun di sepertiga malam. Sayangnya sedang berhalangan sholat, dan udara yang sangat panas membuat mata sulit terpejam kembali. Akhirnya setelah keluar kamar dan mengambil minum, kubuka laptop dan menyibukkan diri dengan browsing internet. Saat itu aku sedang tidak bersemangat menulis karena jiwa sedang terasa kosong. Sudah lebih dari sebulan ternyata, tidak ada satu tulisan pun yang selesai karena sibuk dengan berbagai kegiatan dan juga masalah pribadi.

Akhirnya waktu dua jam kuhabiskan dengan menonton streaming dua episode drama Korea. Cukup menghibur, tapi rasanya telah membuang waktu yang seharusnya sangat baik untuk beribadah. Aku sangat butuh pertolongan Allah, dan saat itu sedang tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan.

Saat itu suara azan subuh mulai bergema bersahut-sahutan. Satu suara di hati mengatakan untuk terus menonton, dan satu suara lagi mengatakan “hentikan dulu, dengarkanlah Allah sedang memanggil”.

Kuheningkan pikiran, melepas headset dan pindah duduk di sudut lantai tempat biasa aku sholat.

Allahu Akbar.. Allahu Akbar
Allah Yang Maha Besar

Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah
Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah

Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah
Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad Saw adalah utusan Allah

Terus kuikuti kalimat per kalimat sampai pada Hayya 'Alal Falaah… Marilah meraih kemenangan. Kujawab dengan Laa haula wala quwwata illa billah, tiada daya upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Seketika itu juga air mataku menetes, ini adalah jawaban atas semua ketidaktenanganku. Jangan menyerah pada keadaan, Allah telah mengajak meraih kemenangan. Bibirku bergerak menggumamkan sendiri jawaban untuk seruan Allah, semua tidak akan terjadi tanpa pertolongan Allah.

Terima kasih Allah, untuk senandung panggilan-Mu yang indah.

Setelah muazin menutup azan kuucapkan: Laillahaillallah, Tiada Tuhan Selain Allah.